Minggu, Mei 03, 2009

Rahmat Allah

RAHMAT ALLAH

Allah berfirman di dalam hadits Qudsi

اذ اهم عبد ى بسيئة فلم يعملها فا كتبوها له حسنة فا ن عملها فا كتبو ها له سيئة فا ن تا ب فا محوها عنه واذاهم عبد ى بحسنة فلم يعملها فا كتبو ها له حسنت فا ن عملها فا كتبو ها بعشرة امش لها ال سبعما ئت ضعف

" Apabila seorang hamba-Ku, merencanakan melakukan suatu kejahatan, tapi tidak dilaksanakannya, tuliskanlah baginya satu kebajikan, tetapi jika dilaksanakannya, maka tuliskanlah baginya satu kejahatan, jika ia taubat, hapuskanlah daripadanya. Dan apabila seorang hamba-Ku merencanakan melakukan suatu kebajikan, lalu tidak dilaksanakannya, maka tuliskanlah baginya satu kebajikan, tetapi jika dilaksanakannya, tuliskanlah baginya sepuluh ganda hingga tujuh ratus ganda".
(H.R. Ibnu Hibban dan Abu Darda r.a.)

Dalam hadits di atas terdapat kata "hamma" maksudnya berkehendak dan bersiap untuk mengerjakan. jadi " hamma" atau " al-hammu" itu merupakan kecenderungan bathin yang mengandung unsur kepastian. karena itulah kami mencoba menyalinnya dengan kata " merencanakan untuk melakukan". oleh karena ada unsur kepastian itulah, maka terjadi seperti yang tersebut dalam Hadits Qudsi di atas.

ada enam jenis kecenderungan bathin pada manusia yaitu:

1. Haditsun-nafsi, yaitu lintasan-lintasan dalam bathin.
2. Hajis, yaitu suara sukma yang lebih menonjol dan lebih kuat daripada lintasan bathin.
3. Khatir, yaitu hajis yang sering menonjol dalam hati
4. al-hammu, yaitu kecenderungan bathin yang sudah mengandung unsure kepastian untuk dilaksanakan, namun pelaksanaannya masih dalam tingkat ragu-ragu.
5. al-azmu, yaitu maksud pelaksanaannya sudah kuat atau lebih kuat dari al-hammu.
6. al-jazmu, yaitu tidak ragu-ragu lagi untuk memulai melaksanakan maksudnya.


Para ulama, telah sepakat bahwa ketiga macam kecenderungan bathin yang pertama (1, 2, dan 3), tidak atau belum dikenai sesuatu hukum seperti yang dimaksud dalam Hadits Qudsi di atas, pada tahap tiga terakhir itulah baru dikenai hukum yang tersebut dalam Hadits Qudsi di atas.

Di samping itu terdapat pula ulama yang menganggap bahwa, al-azmu itu muradif (sinonim) al-jazmu, sehingga dorongan ini tidak lama lagi akan menjelma menjadi amal perbuatan.

Adapun makna dan maksud Hadits Qudsi tersebut di atas, wallahu a'lamu bi muradihi. ialah bahwa Allah memerintahkan, kepada Malaikat, yang diserahi tugas mencatat semua amal perbuatan manusia, untuk tidak menuliskannya sebagai satu kejahatan, apabila yang bersangkutan baru sampai taraf " merencanakan" saja, dan belum " melaksanakan". meninggalkan dan tidak jadi melaksanakan maksiat berarti menahan diri dari kejahatan. menahan diri dari perbuatan jahat, adalah satu kebajikan.

Apabila manusia atau orang telah melaksanakan atau mengerjakan maksiat yang direncanakannya, barulah para malaikat menuliskan atau mencatatnya sebagai satu kejahatan.

Malaikat tidak mencatat sebagai satu kejahatan, apabila masih dalam taraf " merencanakan akan melakukan" serta tidak jadi dilaksanakan disebabkan karena taqwa kepada Allah, padahal ia sanggup melaksanakannya, maka ia mendapatkan satu kebajikan.

Ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa orang yang mempunyai azam (maksud) melakukan maksiat dengan hatinya, dan telah menyediakan diri untuk melaksanakannya, sebenarnya ia telah berdosa, meskipun belum melaksanakannya. Menurut pendapat mereka pemaafan yang terdapat dalam Hadits qudsi tersebut di atas, hanya sampai batas al-hammu, yang hanya melintas dalam hati yang belum ada ketetapan, belum jadi azam (maksud).

Ada lagi yang berpendapat bahwa, orang yang telah melakukan maksiat tetapi belum bertaubat, kemudian merencanakan untuk melakukannya lagi atau akan mengulanginya, ia akan disiksa karena akan mengekalkan perbuatan maksiat itu. jadi pengekalan atas suatu maksiat, adalah maksiat juga. Akibatnya, orang yang meng-'aam melakukan maksiat dan memutuskan untuk melaksanakannya, telah dituliskan baginya satu kejahatan kedua.

Apabila seseorang telah melakukan kejahatan, kemudian ia sesali perbuatannya itu dengan segera menghentikan perbuatannya itu dan berpindah kepada kebaikan, bertaubat dan memohon ampun atas kemaksiatannya itu dengan berazam tidak akan mengulangi kembali perbuatan maksiatnya, Allah Swt akan berkenan menghapuskan dosa dan kejahatannya itu, Allah Swt. akan menghilangkan perbuatan jahatnya itu dan menganggapnya seolah-olah tidak pernah terjadi.

Hadits Qudsi di atas memberitakan kepada kita bahwa apabila seorang hamba merencanakan berbuat baik atau kebajikan tetapi belum atau tidak dikerjakan karena sesuatu sebab, Allah akan memerintahkan menuliskan satu kebaikan baginya. Dengan demikian diharapkan manusia selalu senang memikirkan hal-hal yang baik serta selalu berniat untuk berbuat baik. Apabila Allah Swt,. telah memberikan taufik kepada seseorang, sehingga orang itu langsung berbuat baik, Allah Swt. berkenan menuliskan sepuluh kebajikan bagi orang itu.

Kisah sahabat Rasulullah Saw yang mendapatkan rahmat Allah Swt

Habis Gelap terbitlah Terang

Ia adalah Abu Sufyan bin Harits, dan bukan Abu Sufyan bin Harb ayah Mu'awiyah. Kisahnya merupakan kisah kebenaran setelah kesesatan, sayang setelah benci dan bahagia setelah celaka .... Yaitu kisah tentang rahmat Allah yang pintu-pintu-nya terbuka lebar, demi seorang hamba menjatuhkan diri diharibaan-Nya, setelah penderitaan yang berlarut-larut!

Bayangkan, waktu tidak kurang dari 20 tahun yang dilalui Ibnul Harits dalam kesesatan memusuhi dan memerangi Islam ... ! Waktu 20 tahun, yakni semenjak dibangkitkan-Nya Nabi saw. sampai dekat hari pembebasan Mekah yang terkenal itu. Selama itu Abu Sufyan menjadi tulang punggung Quraisy dan sekutu-sekutunya, menggubah syair-syair untuk menjelekkan serta menjatuhkan Nabi, juga selalu mengambil bagian dalam peperanganyangdilancarkanterhadapIslam.

Saudaranya ada tiga orang, yaitu Naufal, Rabi'ah dan Abdullah, semuanya telah lebih dulu masuk Islam. Dan Abu Sufyan ini adalah saudara sepupu Nabi, yaitu putera dari pamannya, Harits bin Abdul Mutthalib. Di samping itu ia juga saudara sesusu dari Nabi karena selain beberapa hari disusukan oleh ibu susu Nabi, Halimatus Sa'diyah.

Pada suatu hari nasib mujurnya membawanya kepada peruntungan membahagiakan. Dipanggilnya puteranya Ja'far dan dikatakannya kepada keluarganya bahwa mereka akan bepergian.Dan waktu ditanyakan kemana tujuannya, jawabnya ialah:

"Kepada Rasulullah, untuk menyerahkan diri bersama beliau kepada Allah Robbul' alamin !"Demikianlah ia melakukan perjalanan dengan mengendarai kuda, dibawa oleh hati yang insaf dan sadar

Di Abwa' kelihatan olehnya barisan depan dari suatu pasukan besar. Maklumlah ia bahwa itu adalah tentara Islam yang menuju Mekah dengan maksud hendak membebaskannya. Ia bingung memikirkan apa yang hendak dilakukannya. Disebabkan sekian lamanya ia menghunus pedang memerangi Islam dan menggunakan lisannya untuk menjatuhkannya, mungkin Rasulullah telah menghalalkan darahnya, hingga ia bila tertangkap oleh salah seorang Muslimin, ia langsung akan menerima hukuman qishas. Maka ia harus mencari akal bagaimana caranya lebih dulu menemui Nabi sebelum jatuh ketangan orang lain.

Abu Sufyan pun menyamar dan menyembunyikan identitas dirinya. Dengan memegang tangan puteranya Ja'far, ia berjalan kaki beberapa jauhnya, hingga akhirnya tampaklah olehnya Rasulullah bersama serombongan shahabat, maka ia menyingkir sampai rombongan itu berhenti. Tiba-tiba sambil membuka tutup mukanya, Abu Sufyan menjatuhkan dirinya di hadapan Rasulullah. Beliau memalingkan muka daripadanya, maka Abu Sufyan mendatanginya dari arah lain, tetapi Rasulullah masih menghindarkan diri daripadanya.



Dengan serempak AbuSufyan bersama puteranya berseru:
"Asyhadu alla ilaha illallah. Wa-asyhadu anna Muhammadar Rasulullah Lalu ia menghampiri Nabi saw. seraya katanya: "Tiada dendam dan tiada penyesalan, wahai Rasulullah".Rasulullah pun menjawab:

"Tiada dendam dan tiada penyesalan, wahai AbuSufyan!"

Kemudian Nabi menyerahkannya kepada Ali bin Abi Thalib, katanya: -- "Ajarkanlah kepada saudara sepupumu ini cara berwudlu dan sunnah, kemudian bawa lagi ke sini".

Ali membawanya pergi, dan kemudian kembali. Maka kata Rasulullah: "Umumkanlah kepada orang-orang bahwa Rasulullah telah ridla kepada Abu Sufyan, dan mereka pun hendaklah ridla pula…!"

Demikianlah hanya sekejap saat…!Rasulullah bersabda:

"Hendaklah kamu menggunakan masa yang penuh berkah…!" Maka tergulunglah sudah masa-masa yang penuh kesesatan dan kesengsaraan, dan terbukalah pintu rahmat yang tiada terbatas

Abu Sufyan sebetulnya hampir saja masuk Islam ketika melihat sesuatu yang mengherankan hatinya ketika perang Badar, yakni sewaktu ia berperang di pihak Quraisy. Dalam peperangan itu, Abu Lahab tidak ikut serta, dan mengirimkan 'Ash bin Hisyam sebagai gantinya. Dengan hati yang harap-harap cemas, ia menunggu-nunggu berita pertempuran, yang mulai berdatangan menyampaikan kekalahan pahit bagi pihak Quraisy.

Pada suatu hari, ketika Abu Lahab sedang duduk dekat sumur Zamzam bersama beberapa orang Quraisy, tiba-tiba kelihatan oleh mereka seorang berkuda datang menghampiri. Setelah dekat, ternyata bahwa ia adalah Abu Sufyan bin Harits.Tanpa bertangguh Abu Lahab memanggilnya, katanya: - "Mari ke sini hai keponakanku! Pasti kamu membawa berita! Nah, ceritakanlah kepada kami bagaimana kabar di sana …!"

Ujar Abu Sufyan bin Harits: - "Demi Allah! Tiada berita, kecuali bahwa kami menemui suatu kaum yang kepada mereka kami serahkan leher-leher kami, hingga mereka sembelih sesuka hati mereka dan mereka tawan kami semau mereka ...! Dan Demi Allah! Aku tak dapat menyalahkan orang-orang Quraisy Kami berhadapan dengan orang-orang serba putih mengendarai kuda hitam belang putih, menyerbu dari antara langit dan bumi, tidak serupa dengan suatupun dan tidak terhalang oleh suatupun.

"yang dimaksud Abu Sufyan dengan mereka ini ialah para malaikat yang ikut bertempur disamping Kaum Muslimin

Menjadi suatu pertanyaan bagi kita, kenapa ia tidak beriman ketika itu, padahal ia telah menyaksikan apa yang telah disaksikannya?
Jawabannya ialah bahwa keraguan itu merupakan jalan kepada keyakinan. Dan betapa kuatnya keraguan Abu Sufyan bin Harits, demikianlah pula keyakinannya sedemikian kukuh dan kuat jika suatu ketika ia datang nanti .... Nah, saat petunjuk dan keyakinan itu telah tiba, dan sebagai kita lihat, ia Islam, menyerahkan dirinya kepada Tuhan Robbul' alamin!

Mulai dari detik-detik keislamannya, Abu Sufyan mengejar dan menghabiskan waktunya dalam beribadat dan berjihad, untuk menghapus bekas-bekas masa lain dan mengejar ketinggalannyaselamaini

Dalam peperangan-peperangan yang terjadi setelah pempembebasan Mekah ia selalu ikut bersama Rasulu!lah. Dan di waktu perang Hunain orang-orang musyrik memasang perangkapnya dan menyiapkan satu pasukan tersembunyi, dan dengan tidak diduga-duga menyerbu Kaum Muslimin hingga barisan mereka porak poranda.

Sebagian besar tentara Islam cerai berai melarikan diri, tetapi Rasulullah tiada beranjak dari kedudukannya, hanya

berseru: "Hai manusia ... ! Saya ini Nabi dan tidak dusta... ! Saya adalah putra Abdul Mutthalib

Maka pada saat-saat yang maha genting itu, masih ada beberapa gelintir shahabat yang tidak kehilangan akal disebabkan serangan yang tiba-tiba itu. Dan di antara mereka terdapat Abu Sufyan bin Harits dan puteranya Ja'far.

Waktu itu Abu Sufyan sedang memegang kekang kuda Rasulullah. Dan ketika dilihatnya apa yang terjadi, yakinlah ia bahwa kesempatan yang dinanti-nantinya selama ini, yaitu berjuang fi sabilillah sampai menemui syahid dan di hadapan Rasulullah, telah terbuka. Maka sambil tak lepas memegang tali kekang dengan tangan kirinya, ia menebas batang leher musuh dengan tangan kanannya.

Dalam pada itu Kaum Muslimin telah kembali ke medan pertempuran sekeliling Nabi mereka, dan akhirnya Allah memberi mereka kemenangan mutlak.

Tatkala suasana sudah mulai tenang, Rasulullah melihat berkeliling Kiranya didapatinya seorang Mu'min sedang memegang erat-erat tall kekangnya. Sungguh rupanya semenjak berkecamuknya peperangan sampai selesai, orang itu tetap berada di tempat itu dan tak pernah meninggalkannya.

Rasulullah menatapnya lama-lama, lalu tanyanya: "Siapa ini? Oh, saudaraku, Abu Sufyan bin Harits... !" Dan demi didengarnya Rasulullah mengatakan "saudaraku", hatinya bagaikan terbang karena bahagia dan gembira. Maka diratapinya kedua kaki Rasulullah, diciuminya dan dicucinya dengan air matanya.


Ketika itu bangkitlah jiwa penyairnya, maka digubahnya pantun menyatakan kegembiraan atas keberanian dan taufik yang telah dikaruniakan Allah kepadanya:

"WargaKa'ab dan'Amir sama mengetahui Di pagi hari Hunain ketika barisan telah cerai berai Bahwa aku adalah seorang ksatria berani mati Menejuni api peperangan tak pernah nyali Semata mengharapkan keridhaan IlahiYang Maha Asih dan kepada-Nya sekalian urusan akan kembali".

Abu Sufyan menghadapkan dirinya sepenuhnya kepada ibadat. Dan sepeninggal Rasulullah saw. ruhnya mendambakan kematian agar dapat menemui Rasulullah di kampung akhirat. Demikianlah walaupun nafasnya masih turun naik, tetapi kematiantetap menjadi tumpuan hidupnya.

Pada suatu hari, orang melihatnya berada di Baqi' sedang menggali lahad, menyiapkan dan mendatarkannya. Tatkala orang-orang menunjukkan keheranan mereka, maka katanya:

"Aku sedang menyiapkan kuburku.

Dan setelah tiga hari berlalu, tidak lebih, ia terbaring dirumahnya sementara keluarganya berada di sekelilingnya dan sama menangis. Dengan hati puas dan tenteram dibukanya matanya melihat mereka, lalu katanya: "Janganlah daku ditangisi, karena semenjak masuk Islam tidak sedikitpun daku berlumur dosa."

Dan sebelum kepalanya terkulai di atas dadanya, diangkatkannya sedikit keatas seolah-olah hendak menyampaikan selamat tinggal kepada dunia fana ini.


Allah Swt Maha Pemurah, mempunyai keutamaan yang Maha Besar lagi Maha agung, yang memiliki pahala. Firman Allah dalam al-Qur'an:


•                          

"Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui".
(QS: al-Baqarah: 261)



•     •            
"Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), Maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan". (QS: al-Baqarah: 245)




•     •       
"Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, Maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan Dia akan memperoleh pahala yang banyak". (QS: al-Hadid: 11)


•              •  
"Sesungguhnya Allah tidak Menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar." (QS: an-Nisa: 40)


Ayat-ayat al-Qur'an yang menunjukkan pahala, kelebihan dan keutamaan Allah, tidak terhitung jumlahnya. demikian juga halnya dalam hadits-hadits Nabi Muhammad Saw.

kalau kita teliti isi Hadits Qudsi di atas, terdapat bilangan 700. apakah memang pahala itu hanya dibatasi sampai 700 lipat ganda saja?

Untuk mendalami hikmah dan rahasianya, Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitabnya menegaskan:

Apabila orang Arab, menyatakan bilangan banyak pada bilangan satuan, mereka sebutkan sampai pada bilangan tujuh. Apabila lebih dari tujuh dan ingin menyatakan bilangan banyak, biasanya mereka menyebutkan huruf "wau" Apabila kita kali-kan tujuh itu kepada bilangan sepuluh, kemudian hasil kali itu (yakni tujuh puluh) kita kalikan lagi sepuluh maka hasilnya ialah tujuh ratus.

Menurut Ibnu Hajar Alhaitami, angka 7 bagi orang arab menunjukkan bilangan banyak.

Allah berfirman di dalam Hadits Qudsi:

قا ل الله عزوجل: سبقت رحمتى غضبي

Allah Azza wajalla berfirman: "Rahmatku mendahului murkaku." (HR: Muslim).

dari hadits Qudsi di atas semakin menjelaskan bahwa sesungguhnya rahmat Allah Swt itu mendahului murka Allah, ketika kita lihat dari uraian sebelumnya betapa sangat besar sekali ampunan Allah Swt kepada hambanya yang berbuat dosa kemudian bertaubat, semoga kita termasuk golongan orang-orang yang dirahmati Allah Swt amin.
























Daftar Pustaka


Usman Ali, A.Dahlan. dan M.D. Dahlan, Hadits Qudsi, Bandung: Diponegoro, 2005
Ibnu al-Haitami Hajar, Fat-hul Mubin, Syarah Arba'in Annawaiyyah, Ahmad Albabi Alhalabi, Qairo, 1307 H
Muhammad Almath Faiz, 1100 Hadits Terpilih, Jakarta: Gema Insani, 1991
Khalid Muhammad Khalid, 2000, Para Sahabat yang Akrab Dalam Kehidupan Rasul, Jakarta: Srigunting.

10 komentar:

  1. artikel anda sangat bagus sekali saya sangat menyukainya sekali

    BalasHapus
  2. saudaraku anda sangat hebat sekali dalam berjuang tolong anda lanjutkan perjuangan dakwah islam anda tersebut

    BalasHapus
  3. saya sangat kagum dengan anda sunguh ide-ide anda sangat bagus sekali, bahasa dakwah yang anda gunakan sangat manrik sekali

    BalasHapus
  4. saya kritisi tolong anda lebih banyak menulis artikel islami yang lebih banyak lagi

    BalasHapus
  5. lanjutkan perjuangan dakwah kita sobat

    BalasHapus
  6. lanjutkan perjuangan islam sahabatku

    BalasHapus
  7. sahabatku lanjutkan dakwah kita

    BalasHapus